M.HAERUL R MEMPUNYAI HOBI YANG UNIK SELAIN MENJADI KETUA PAC JPKPN KECAMATAN TEGAL AMPEL

Bondowoso,MN Cakrawala-Dibalik pengabdiannya sebagai seorang pendampimg masyarakat selaku Ketua PAC JPKPN Tegal Ampel, ia memilih untuk menekuni budidaya bonsai dan sejenisnya . Dari proses budidaya bonsai inilah sosok M. Hairul R. memperoleh pundi-pundi rupiah yang tidak sedikit.

Laki-laki kelahiran Desa Mandiro, Kecamatan Tegal Ampel Bondowoso itu mengaku baru menggeluti budidaya bonsai ini belum genap setahun dimanfaatkan saat saat masa pamdemi korona melanda.

Saat dikunjungi awak media di kediamannya, ia banyak menceritakan ihwal mula ia mulai menekuni budidaya bonsai tersebut. Sebelum ia membudidayakan tanaman bonsai, ia telah malang melintang di dunia kerja.

“Mulai dari buruh kasar sampai pekerjaan halus. Seperti, ternak sapi, petani tembakau, service HP bahkan juga jurnalis disalah satu media online dan cetak hingga jadi aktifis pendamping masyarakat,, sampai buka usaha sendiri,” tuturnya, Rabu (10/3)

Setelah lelah malang melintang, paparnya, ia masuk ke salah satu ormas untuk menpemasaran. masyarakat.

Laki-laki yang kesehariannya sibuk mengabdi di sebuah organissi kemasyarakatan ini menceritakan, ia tertarik lantaran  hobi dalam mengulik-ulik bunga. Dari hobi tersebut, ia mencoba untuk membudidayakan tanaman bonsai.

Tanaman bonsai, terangnya, tak hanya memiliki nilai estetis. Tapi juga bisa menetralisir udara, membuat udara disekitar lebih segar. Di lain sisi, tanaman bonsai memiliki nilai yang sakral.

“Karena banyak yang bilang kalau kita tanam bonsai itu banyak tamu dan rezeki. Yang penting membuat suasana jadi tenang,” ucapnya.

Pria yang karib dipanggil Dewa ini membuat bonsai dari berbagai jenis tanaman. Sebut saja seperti pohon serut, asam, koko bonsai, santigi, sancang, loa, bogenvile, beringin dn lain sebagainya.

“Semua pohon bisa dijadikan bonsai,” terangnya.

Ia menceritakan, untuk mendapatkan pohon yang bagus, ia rela menjelajah hutan di bawah terik matahari. Pohon yang dicari tersebut, masih berbentuk pohon utuh. Untuk mendapatkan bakalan bonsai, ia harus menggali untuk dibawa beserta akarnya.

Tak tanggung-tanggung, kadang ia harus memikul kayu yang ia dapat dari jarak yang tidak dekat. Setelah ia mendapatkan kayu, ia taruh di pot yang sudah ia siapkan.

Dia menuturkan, proses pembuatan bonsai melalui beberapa tahap. Yakni, ranting-ranting dibersihkan terlebih dulu. Setelah itu, lalu ditutup menggunakan pelastik dan di semprot atau buat pemyiraman

Proses pembuatan pemyiraman ini disebutnya berlangsung selama kurang lebih satu bulan sampai keluar tunas. Setelah tunas keluar dengan merata, tutup tunas dibuka kemudian disemprot pagi dan sore, sampai akarnya betul-betul kuat.

Setelah itu, tutur Dewa, satu minggu atau dua minggu tanah disiram, sangat tergantung pada kekeringan tanah. Penyiraman bisa saja sekali dalam tiga hari. Setelah itu kemudian ditunggu sampai tunas tumbuh seukuran panjang jari.

Setelah itu, paparnya, proses pembentukan model yang diinginkan sesuai dengan tipikal ranting. Proses pembentukan tersebut melalui proses pengawatan menggunakan tembaga sampai empat kali proses pengawatan, baru bisa terlihat bentuknya.

“Pengawatan sekitar tiga bulan satu kawat. Baru pengawatan kedua. Pengawatan sekali tunas, sampai sekali enam bulan tergantung kondisi tanaman,” katanya.

Ukuran kawat yang digunakan tergantung keinginan, yakni ukuran dua sampai sembilan inchi, mulai dari ranting kecil dan besar.

Untuk pengawatan bentuk bonsai, tak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Ia sendiri memiliki orang yang khusus dan ahli di bidang tersebut. Ini karena bonsai selain dilihat dari ranting, juga tergantung dari postur akar.

Ia pun menyebutkan bebarapa model dari bonsai seperti, aslan, formal, raf, menggantung, dan banyak yang lain lagi.

Ia menyebutkan, harga bonsai pun sangat variatif. Harganya tergantung dari kualitas bahan dan akar. Harga bonsai saat ini mulai dari Rp 500 ribu sampai angka miliaran rupiah.

.“Ilmu saya baru sampai proses pengawatan saja,” ucapnya.

“Saya sangat berharap bantuan terutama dalam dua hal, alat dan pemasaran.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: