TKD Yang Tidak Produktif Desa Gambiran Akan Di Buat Objek Wisata Desa

  • Whatsapp

Jember, MN Cakrawala – Bekas galian C yang ada di Desa Gambiran akan di ubah menjadi objek wisata oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Gambiran, bersama warga, Tokoh masyarakat Gambiran, sekaligus bentuk dan upaya sebagai pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Menurut keterangan salah satu warga desa Gambiran yang engan di sebut namanya, Saya sebagai warga Desa Gambiran sangat mengapresiasi kinerja Bapak Kades yang sekarang, karena beliau berani mengambil langkah langkah resiko, demi kemajuan Desa dan Masyarakat Gambiran.” Tegasnya

Read More

Kades Gambiran, Bapak Dwi H. Purwadi, mengatakan, Tanah tersebut, tanah tidak produktif akhirnya saya selaku Kepala Desa punya gagasan, alangkah baiknya kalau gumuk itu di ratakan untuk wisata desa, karena dengan adanya itu otomatis bisa memberikan kontribusi pada masyarakat kami tentunya.

Untuk pada karya menambah ingkam, sekaligus untuk mendorong potensi pendapatan asli desa (PAD).karena nanti di sana ada mainan anak anak, pabrik jamur, dll, dan bisa di jadikan agro wisata atau bisa jadi kampung kecil.” Katanya.

Lanjut Purwadi, Sebelumnya kami ini pernah di datangi Dirjen Kemendes tapi saya lupa bulannya bulan berapa, tapi saya ingatnya saya baru baru jadi kades, mungkin beliau pernah denger kalau Desa Gambiran punya gagasan seperti itu.

Saya sebagai kepala desa dapat ajungan jempul, kata beliau Desa itu tergantung Kepala Desanya, tinggal beliau punya inufatif atau tidak untuk memajukan desanya, beliau bilang begitu pada saya, kalau jenengan bisa seperti itu, nanti kalau di datangi oleh Mentri, sampean akan dapat program program yang lain.

Dan pernah di datangi Seknas Jokowi, karena Gambiran masuk desa setanding, kami dapat program embung kecil tapi harus di lahan kas desa, dananya tidak tangung tangung, dananya hampir satu milyar, wah saya tambah semangat.

Dengan begitu saya kumpulkan temen temen termasuk BPD, LPM, RT/RW, Tokoh masyarakat, Tokoh agama, termasuk Masril sebagai indisitor, saya datangkan pendamping dari Jember, gagasan itu saya sampaikan, mereka setuju semua, setelah itu saya perdeskan.” Ungkapnya.

Dan Kebetulan di samping gumuk itu ada pengembang membeli gumuk, akhirnya saya di fasilitasi oleh temen, dia sanggup untuk kerja sama meratakan gumuk, akhirnya saya ada m dengan yang bersangkutan.

Setelah lahan di lihat gumuk itu tidak ada kandungan pasirnya, akhirnya dak mau, saya bilang udah ratakan aja, ini untuk wisata desa, yang penting saya dengan panjenegan tidak saling tidak merugikan, yang penting pihak satu tidak minta keuntungan ke pihak kedua sebagai pengembang, dan sebaliknya. Pihak kedua tidak minta biaya operasional untuk pemerataan gumuk tersebut.

Surat peryataan ya ada, di sana juga tertera bahwasanya “Menuju Desa Mandiri,” siapa tau nanti bisa jadi pasar, kan enak, karena luasnya lumayan gak nangung nangung 6 hektar luasnya. Dan tidak ada bahasa sewa menyewa, siapa yang mau sewa gumuk ini, dan tidak ada kepentingan pribadi, dak mungkin saya jadi kepala desa terus, ini kepentingan masyarakat desa sendiri.” Tutupnya.(Agus) Share this page to Telegram

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *